As a writer As a mom

Jul 19, 2013

East Coast Park 101

Seorang teman dekat yang mau berkunjung ke Singapore tengah Mei nanti “memaksa”saya membuat tulisan ini. Pada kunjungan terakhirnya ke Singapura, saking banyaknya acara berpadu dengan hujan yang kerap turun, membatalkan rencananya ke East Coast Park. Padahal berkunjung ke mari menjadi obsesinya. Katanya,’temen gue bilang bagus banget. Ayo ke sana yuk.’ Saat itu saya ya-kan saja sembari pesimis bisa terwujud. Lagipula malas banget. Daripada jauh-jauh ke East Coast, tentunya acara pantai-memantai bersama Rafe kami lebih memilih Sentosa yang ibaratnya tinggal melompat dari rumah :p Tapi hari itu, entah kenapa (ketularan barangkali), justru saya yang ngotot mengajak ke sana. Padahal Minggu pagi itu hujan turun. Logisnya, leyeh-leyeh atau tidur jadi pilihannya. Seorang teman lainnya yang ternyata sudah di sana, mengompori untuk datang karena katanya di situ matahari tersenyum cantik. Perjalanan ke East Coast kami tempuh sebagian dengan MRT hingga stasiun Bedok, lalu kami sambung dengan taksi yang harganya sekitar 5 dolar saja. Dan saudara-saudara… matahari East Coast bukan tersenyum cantik menyambut kami, tapi heboh memeluk dengan teriknya.#sigh #siap-siapgosong Tapi saat pertama kali saya dan Rafe menjejak kaki di East Coast Park, matahari memang genit menggoda. Kadang sembunyi di balik awan, menyejukkan, kadang muncul lagi cari perhatian mengucurkan peluh. Tapi tak mau pusing soal matahari, kami mulai keriaan hari itu dengan bermain layang-layang. Layangan Daiso 2 dollar yang saat dicoba di Botanical Garden malas naik, di sana, tunduk patuh dibawa angin pantai tinggi membubung. Rafe girang sekali. Bapaknya apalagi. Sementara saya masih mencoba menikmati perasaan bahagia ada di situ. Lega, lapang, dan menyenangkan. Menyesal baru menyambangi tempat ini sekarang. Berikut cerita kunjungan kami via kolase foto ya: Sekilas East Coast Park. Saya suka peralihannya, dari rimbun dan hijaunya pepohonan yang menunjukkan bahwa ini memang taman, hingga pasir dan pesisir pantainya. Ada barbeque pit yang bisa disewa dan gazebo-gazebo untuk berteduh kala hujan atau ngadem. Lihat di pojok kanan bawah itu layangan 2 dolar kami di udara :) Agenda berikutnya menyambangi East Coast Lagoon Food Village. Suasananya mirip Newton Circus, banyak stall-stall yang mayoritas menawarkan aneka seafood. Tapi ga sedikit juga yang menjual sebangsa biryani, nasi lemak dan sate. Rata-rata stall yang menjual makanan tersebut stall makanan halal. Untuk seafood, ada 1 stall halal tapi sayangnya saat itu, mereka belum buka. Sepertinya mulai jualan sore menjelang malam. Jadilah menu kami siang itu sate, nasi goreng ikan bilis, oyster egg (stall-nya tidak ada cap halal tapi bertandakan no pork no lard). Sedap juga… walopun terik sangat berbaur asap sate, Jenderal! Menurunkan makan kami berjalan melihat danau buatan di belakang area food village dan menemukan atraksi olahraga air ini. Ingin mencoba kapan-kapan, karena menontonnya aja seru sekali. Rafe gak berhenti berucap, ‘awesome, mom!’ Kurang afdol kalau ke East Coast tidak bersepeda atau main inline skating. Tapi mengingat yang terakhir kami kurang keahlian dan rasanya terlalu individualistis, kami memilih bersepeda tandem bertiga. Sewanya 10 dollar untuk sejam. Ada juga sepeda anak, atau sepeda tandem dewasa atau sepeda dewasa dengan boncengan anak. Dipilih-dipilih… Rute bersepeda kami yang pertama adalah Bedok Jetty. Di sepanjang dermaga ini banyak orang ngetem sambil memancing kerusuhan ikan. Salut karena cukup terik dan di dermaga itu panas seolah memantul dari lantai betonnya. Biar begitu suasananya menyenangkan. Yang seru, Rafe melihat ikan yang berhasil ditangkap seorang bapak. Besar! Kami berhenti di Extreme Skate Park @ East Coast tempat tweens dan teens unjuk kabisa main skate board, sepeda, inline skating.Jangan ditiru dulu ya, Rafe :) Rute bersepeda berikutnya adalah taman bougenville. Cantiknya! Ada menara untuk melihat pemandangan yang bisa ditempuh dengan sepeda atau berjalan kaki. Tapi kalau dengan sepeda berarti siapkan betis untuk mengayuh tanjakan! Dari sini kami berbalik arah karena ingin memutar ke sisi lain. Friendly warning: sadel sepeda ini kurang busa, jadi bersiaplah pegel dan pantat cenat-cenut setelah bersepeda sejam. Barangkali ini disengaja supaya orang tidak menyewa terlalu lama. Percayalah dengan kesenangan yang dibawanya bersepeda bersama bocah, pegel pantat ini rasanya nikmat :p Kesimpulan: Rekomen sebagai tempat rekreasi keluaga. Kalau terasa jauh karena tinggal di sisi lain pulau ini seperti kami, yakinlah lama perjalanannya berbanding lurus dengan kesenangan yang didapat kok, jadi layak ditempuh! Turis... sejujurnya pemandangan lepas pantai tidak indah karena bukannya disuguhkan horison yang lepas, justru kapal-kapal tanker. Tapi kebersihan dan rimbunnya pantai ini menyenangkan. Belum lagi rute sepeda dan inline skatingnya. Jika ini barang langka buat keluarga Anda, kemarilah. Rasakan serunya bersepeda bersama bocah tanpa kuatir keserempet kendaraan atau beca. Trivia: East Coast Park diklaim sebagai taman terbesar di Singapura dengan luas 185 ha. Dan, catat, dibuat di atas tanah hasil r e k l a m a s i. Rute bersepeda dan in line skatingnya terpanjang di Singapura, sepanjang lebih dari 15 km. Saking besarnya, ternyata petualangan kami sore itu baru menjelajah sebagian dari East Coast Park. Pesisirnya masih panjang. Belum lagi ada Big Splash! @ East Coast Park yang berisi retail ,resto dan arena bermain indoor anak, lalu seafood center-nya pun belum terjamah. Lain kali deh. Tapi catatan seru outing kami hari itu, kami sudahi sekitar pukul 5 sore, dan ini membuat acara mencari taksi tidak susah karena belum jam-nya bubaran. Lebih malam sedikit lagi, bisa jadi terjadi pertumpahan darah antrian taksi sepanjang ular…. So, time your fun wisely people if you travel with public transportation. Happy gowes, people! :)
Partners:
Loading...