As a writer As a mom

ON HEELS

Jun 26, 2013 14:14 PM

Belajar Dari The Sopranos

Awal April lalu saya sempat mengikuti workshop gratis yang diadakan oleh NUS (National University of Singapore) dengan topik  Writing for Television. Pembicaranya adalah sepasang sahabat yang kemudian menjadi penulis/executive producer sitkom Girlfriends (sitcom a la SATC untuk segmen perempuan urban kulit hitam) dan Designing Women; Mark Alton Brown dan Dee LaDuke.  Biar sudah agak basi, tapi percayalah ilmu yang saya dapat di situ tetap hits untuk disimak. Ala UUD, dalam tempo sesingkat-singkatnya, mereka mencoba menerangkan seluk-beluk menulis untuk tv, bagaimana menjual ide kita dan bagaimana mengembangkan ide kita.

Ada Apa Dengan The Sopranos?

Menurut Dee dan Mark, semuanya! Drama seri sukses HBO ciptaan David Chase ini berjaya selama 9 tahun (1999-2007)!!!  Dan menurut mereka berdua, The Sopranos adalah contoh seimbang antara komersil vs idealisme.  Komplit pula! Ada drama, ada aksi, ada sedih, ada senang, ada biasa, ada luar biasa. Tokoh-tokohnya pun sekalipun mobster, terkadang kita dibuat melihat semuanya tidak lagi hitam putih, tapi abu-abu, sehingga ketika dia membunuh, penonton memaklumi, memaafkan karena penonton dibuat terlibat dan paham akan motivasinya dan merasa menanggung pula dilemanya. Lebih lanjut, Dee yang bicara lebih dominan ketimbang Mark, bercerita dan menanyakan satu pertanyaan penting: How do you know you have the great idea?

Berikut ini parameter pengukurnya:

  • Market, tv selalu mengenai bisnis. Pasar yang “basah”menurut mereka adalah produk bir, mobil, dan hp. Jadi ketika kita bisa membuat ide acara yang menarik untuk dijual ke produsen produk itu, akan sangat bagus karena, “there’s the money is.”
  • What to offer, idenya sendiri. Untuk itu, jangan lupa bahwa konsep dasar tv bahwa produk akhir tv adalah -ŕ butt on the coach, aka, viewer.
  • Creative + Output, yaitu tentang bagaimana menjembatani ide dan pasar itu tadi.

Developing Your Ideas

Ada 3 cara menurut mereka :

  • Method Model, mulai dari karakter lalu apa cerita mereka.
  • Journalistic Model, memakai pedoman 5W+1H
  • Creative Writing Model

Ketiga metoda itu bisa menjadi awalan bagaimana kita mengembangkan ide kita ketika menulis untuk tv.

Nah, ketika mau mempresentasikan ide kita, 3 hal yang esensial  yang wajib kita kuasai  :

  • Where the money comes from?
  • Knows your products: awalan, tengah dan akhiran.  You have to know this by heart. You have to know who you want to start and how you want to end your series.
  • Prepared answers. Persiapkan diri untuk segala macam bentuk pertanyaan yang akan terlontar mengenai idemu ini.

Tapi patokannya, untuk menciptakan acara tv yang bermutu dan bisa bersaing hingga sukses, mereka meramu 4 unsur paling penting yang ada di setiap acara-acara tv sukses berating besar yang dibanjiri iklan:

  1. Immediacy, ada unsur yg sekarang dan kini,  yang dalam hitungan detik bisa memaku pantat seseorang di depan tv, dan bisa mencegah tangannya memindahkan saluran. Bisa berupa fisik si tokoh, interior, masalah, obrolan, gaya rambut, dll.  Adanya immediate connection.
  2. Mirror, tv loves mundane details. Karena detail keseharian ini yang bisa dengan cepat menciptakan koneksi dan relasi yang akan mengikat penonton.
  3. Character, loveable characters will make loyal viewer and they don’t have to be saint or good!!! Simply human and “interesting”.
  4. Time. Mau berapa lama acaranya? Apakah untuk slot 30 menit atau 1 jam? Karena ini menyangkut uang = iklan. Selain itu, mengenai waktu di sini juga termasuk betapa elemen waktu di dalam acara tv adalah life-like progression, sangat organik. Penonton bisa tumbuh bersama acara tv.

How to Break To The Industry?

Dee dan Mark bercerita untuk kultur tv Amrik, mereka memiliki agen yang akan mempertemukan kita dengan para eksekutif tv itu, si pembuat keputusan. Mengenai agen, kata mereka, ketika mengkomunikasikan ide kita ke agen, bicaralah dalam bahasa bisnis: tidak lebih dari 25 kata mencakup genre, dan karakternya. Lebih dari itu si agen akan bingung dan tulalit.

Selagi muda, kata mereka, kalau ingin masuk ke industri ini mereka menyarankan old skul way: mulai dari bawah! Jadi tukang bikin kopi, jadi asisten, jadi apapun agar bisa masuk ada di dalam dan akhirnya mengenal siapa orang-orang penting di dalam.

Ketika di akhir sesi saya cerita sama Dee tentang kondisi tv di Indonesia yang semakin bikin esmosi dan minim acara bagus dan dengan ironi betapa acara bagus selalu short-lived sementara yang dihinadina selalu jaya hingga 7 musim berganti… saran Dee: jangan menyerah (*putar D'Massive*) , jadilah si pembuat keputusan, ambil sekolah bisnis dan pelajarilah aspek bisnis supaya acara-acara bagus ini bisa menghasilkan. Karena ketika menghasilkan, tidak ada seorangpun yang akan berkata tidak pada u-ang, titik.

Semoga bermanfaat!

xoxo

Partners:
Loading...