As a writer As a mom

ON HEELS

Jun 24, 2013 19:36 PM

The Ones That Got Away

 Kejadiannya lebih dari 11 tahun yang lalu.

Saat itu saya ada di Bali karena sebuah pekerjaan melatih calon penyiar baru sebuah radio anak muda. Di sanalah saya berkenalan dengan Jane. Fun Fearless Female  label yang paling cocok untuk sosoknya yang ekstrovert, ramah, ramai, pemberani cenderung nekad, gaul, berjiwa petualang, dan serentetan kata sifat lainnya yang jauh dari kata bosan.

Selama sepuluh hari di Bali berteman dengan Jane, ada satu malam yang kalau saya kenang selalu membuat senyum mengembang. “Lumayan seru juga masa lajang gue,” melintas di hati sembari bangga ikut mekar.

Sepucuk kenangan itu melibatkan kue mungil yang penampakannya sih tidak jauh beda dengan kue chocolate chips pada umumnya, hanya saja Jane mendapatkan kue itu dari temannya yang orang Amerika dan kue itu dibuat dengan tambahan… *drum roll* (yes, you got it right), ganja.

Satu kue mungil itu bisa membuat saya dan Jane tertawa hingga perut keram untuk sebab-sebab yang bahkan sama sekali tidak lucu.  Hanya saya dan Jane malam itu, dengan sebuah kue mungil pemberian temannya yang kami bagi setengah-setengah dan obrolan yang sangat perempuan serta banjir tawa sambil betul-betul berguling-guling di lantai.  Keseruan malam itu membekas sekali di hati dan mengingatnya selalu membawa perasaan hangat dan menyenangkan. Among the best college memories, I must say.

Hingga kemarin.

Kemarin, saya mulai melihat kenangan itu dengan mata yang berbeda.

Lanjut cerita mengenai malam itu, setelah berbagi sepotong kue ajaib, kami merasa lapar dan memutuskan pergi mencari makan.  Saya yang menyetir karena Jane-- ajaibnya sekalipun punya banyak kualitas keren--nggak bisa menyetir.  Seingat saya, jangankan menyetir, memasukkan kunci ke kontak pun sempat jatuh berkali-kali dan kami terbahak tiada henti. Belum lagi men-stater. Tapi ajaibnya malam itu saya  dan Jane kembali ke kosan dengan utuh, selamat tak kurang suatu apapun juga.

Sekarang mengingat kejadian itu rasa bangga yang sempat terselip tersalib malu. I was bloody idiot and irrisponsible! But me and Jane were so  damn lucky that night, considering how hard it was for me to even got the car started!!! Bahkan mobil perusahaan yang dipinjamkan kepada saya di Bali pun malam itu mulus tak berbaret!

Kemudian ingatan-ingatan tentang “dosa-dosa”saya saat menyetir segera melintas cepat: saat dini hari pulang bersama sobat-sobat kuliah sehabis “menyiksa” anggota baru himpunan di suatu bumi perkemahan. Saat itu saya luar biasa ngantuk dan semua orang di mobil saya tertidur pulas. Mata saya nyaris terpejam total di jalan tol. Lalu saat sma, ketika baru bisa menyetir, mobil hardtop hasil pampasan dari kakak saya yang terparkir manis di depan sekolah meluncur dengan sendirinya hingga menabrak bagian belakang mobil seorang alumnus hingga penyok parah (bemper hardtopnya baja,  kagak ada penyok-penyoknya acan). Penyebabnya gara-gara jalan yang sedikit menurun dan rem tangan yang kurang ditarik hingga pol walau analisa saya pasca kejadian: kurang jam terbang dan kebodohan. Untungnya tak ada orang lain yang celaka ketika mobil off road itu jalan dengan sendirinya, walau menurut cerita (saya sedang ke dalam sekolah saat terjadi), beberapa orang sempat pontang-panting menyelamatkan diri dari tertabrak mobil tak berpengemudi itu!!!

Mengingat semuanya, dada ini sekarang sesak oleh haru dan syukur.  It could have been me!!!

Betapa doa orang tua, nenek, dan orang-orang yang sayang sama saya malam itu masih menjaga, memagari, dan membentengi saya dari mencelakai diri sendiri dan orang lain.  

Betapa beruntungnya saya karena selain kerugian materi, naudzubillahi min dzalik jangan sampai terjadi di kemudian hari juga  *ketok-ketok kayu*, saya belum pernah celaka dan mencelakai orang karena kelalaian menyetir tersebut. Merinding sumpah mengingat betapa beruntungnya saya dan betapa ampuhnya doa keluarga saya menjaga saya hingga hari ini karena tanpanya… ah, saya tak berani membayangkannya.

                                                                                                       *

Pertama kali mendapat SIM A, saya baru berusia 16 tahun. Setahun lebih muda dari usia yang diperbolehkan. Tentunya hasil menembak.  Setelah kejadian mobil hardtop menabrak mobil seorang alumnus, nasehat Papa sebelum saya ngotot ingin punya SIM sebelum waktunya, terngiang lagi di telinga. Tapi kali itu menyangkut di kepala bukannya ke luar ke telinga satunya lagi.

Kata Papa, menyetir itu masalah tanggung jawab dan disiplin. Disiplin pada peraturan lalu lintas dan diri, serta tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain, terutama faktor ke-se-la-mat-an.

Sesal tentunya datang setelah kejadian itu dan saya merasa dosa sekali sama orang tua karena membuat Papa harus mengganti biaya reparasi mobil yang tertabrak. Dan tampaknya, kemudian saya “lupa” lagi nasehat beliau itu hingga kejadian Bali dan pulang mengospek adik kelas terjadi. Untungnya tak terjadi apa-apa. Tak ada noda yang kemudian menjadi sesal saya seumur hidup seperti yang dialami oleh Afriyani.

Dengan berbaik sangka, saya yakin sekali  pastinya tidak pernah terlintas sedikit pun di kepala Afriyani cs bahwa pagi itu dia akan mengambil begitu banyak nyawa. Tapi takdir Tuhan bicara lain. Sembilan nyawa orang-orang tak berdosa melayang.  Dan melihat parahnya mobil yang dikendarainya, sungguh ajaib Afriyani masih selamat. Could she now  be thinking that she wished she was dead too during the crash so she didnt have to face the consequences?  Penyebabnya? Kelalaian dan tindakannya yang tidak bertanggung jawab yang berakibat luar biasa fatal: menjadi sesal yang tak bisa ditangkal atau disangkal, konsekuensi yang jadi sanksi di bui yang menghantui seumur hidup.

Gosh, it could have been me!

Mengingat ini membuat saya yang awalnya ikut menitikkan air mata dan marah membaca kisah-kisah para korban, terutama si bocah 2,5 tahun itu, kemudian justru merasa kasihan pada Afriyani.

She’s the one who DID NOT get away with it. I did. Me and probably you and many others. We are the ones who got away! And Afriyani is our sad reminder on how to be very very responsible when we are behind the wheels and it's no f*cking jokes.

Miss LiLo: She's the one who got away too, too many times! Another time you, me, we, she, might not be that lucky anymore...

Mudah sekali untuk “lupa” sama tanggung jawab dan disiplin mengemudi saking sudah jadi keseharian kita. Something that we do everyday, so mundane, it’s like going to the loo, or brushing teeth, that we often take driving for granted.

Karenanya selain mendoakan dan mencari cara membantu keluarga para korban-korbannya, yuk berhenti mengutuk dia cs. Toh tidak akan membuat lebih baik juga. Mari belajar dari tragedi ini karena duh, pekerjaan rumahnya banyak sekali: hai pemerintah…  apa kabar pedestrian yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki dan kebutuhan pedagang kaki 5? Bagaimana dengan transportasi publik yang nyaman dan aman hingga orang pun terbiasa memakainya sebagai alternatif gaya hidup bukan karena tak punya mobil? Bagaimana dengan kampanye “if you must drink (drug) don’t drive”sampai ke otak pengemudi kendaraan bermotor? Dll…Hoaaa...masih banyak!!!

Anyway, sebetulnya catatan ini saya buat karena saya ingin berbagi dengan pengemudi-pengemudi belia yang baru bisa menyetir dan lagi senang-senangnya dipercaya ke sekolah/ kampus bawa mobil sendiri sih…  Guys, it could have been YOU!

Bawa mobil itu bukan masalah seneng-seneng dan keren-kerenan doang. Ada tanggung jawab besar ketika kita ada di belakang kemudi. Ada nyawa kita sendiri di situ, ada nyawa teman-teman/ keluarga yang kita bawa, dan ada nyawa orang lain di sekitar kita. Belajar dari cerita saya. Lain tokoh lain setting, ceritanya bisa jadi berbeda. Bagian mendisiplinkan diri (punya SIM, lengkap surat-surat mobil, kondisi mobil oke dari mulai lampu sign, lampu jauh, lampu dekat, ban, pake seatbelt, dst), patuh rambu-rambu, nggak sambil bb-an saat menyetir, nggak sambil telepon, nggak sambil yang aneh-aneh… dll, adalah bagian kita. Sisanya? Serahkan sama Yang Di Atas.

Jangan lupa belajar juga bahwa keputusan selalu menghasilkan konsekuensi, sebab-akibat, dan beberapa konsekuensi—sekalipun kemungkinannya kecil terjadi, tapi sekalinya terjadi—luar biasa fatal. Siapkah?

Terakhir sekali, pleaseeeee… partai-partai nggak usah lebay menjadikan TKP spot iklan partai ya. Kalau memang peduli, tuh wakilnya di DPR buat undang-undang yang mendukung keamanan berlalu-lintas dan pejalan kaki, dan bantu segera keluarga-keluarga korban!

Semoga para korban diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. Amin YRA.

Partners:
Loading...