As a writer As a mom

ON HEELS

Jun 26, 2013 20:01 PM

Mom's Corner - Perkara Tapau

Tinggal di Singapura membuat saya kenal dengan istilah tapau, terminologi yang konon dipopulerkan oleh Cina Malaysia dan Singapura yang berasal dari kata bahasa Cina yang artinya 'dibungkus' (take away), sebagai lawan dari pilihan 'eating' (mereka sering menyebutnya begitu, bukan dine-in atau eat in dugaan saya asalnya dari kata tersebut yang lebih tepat), yang artinya makan di resto/ tempat tersebut.

Singapura yang komposisi penduduknya banyak diisi perantau dari berbagai belahan dunia yang hidup dengan menyewa satu unit apartemen atau berbagi sewa kamar, pada banyak cerita seringnya si pemilik apartemen hanya memperbolehkan penyewa masak yang ringan-ringan doang supaya dapurnya nggak rusak dan kotor, jadilah tapau menjadi perkara keseharian bagi banyak orang di sini.  Tapi kemudian, saya juga belajar bahwa istilah tapau ini juga populer dipakai dalam konteks membungkus makanan sisa hajatan dari rumah orang dan dalam konteks cerita saya ini, adalah hajatan di rumah sesama teman dari Indonesia.

Dulu, jangankan tapau, makan di rumah orang lain saja tanpa konteks undangan bisa membuat ibu saya marah.

"Kayak di rumah gak dikasih makan enak aja!"

Dan ternyata ibu-ibu teman saya pun begitu, sehingga banyak teman saya sesama orang Indonesia di Singapura pun pada awalnya menerapkan kebijakan anti tapau dari hajatan teman ini. Barangkali penyebabnya kalau di kita kan selepas hajatan yang biasanya dapat tapau itu tukang becak dan tukang sampah di sekitaran rumah sebagai sedekah.

Nah, tapi semakin lama tinggal di negeri Singa membuat pandangan saya soal tapau dari hajatan teman berubah drastis hingga jadi banci tapau karena:

1).Faktor kelangkaan

2). Kurangnya keahlian saya membuat panganan tersebut.

Ilustrasinya: lemper, risoles, tekwan, klapertart, dll yang di Indonesia ada di setiap toko kue, murah serta enak itu, di Singapura menjadi barang langka. Kalaupun ada, tempatnya tertentu, jauh, dan kadang rasapun kurang cocok. Bikin sendiri? Yuuuk mari? keahlian memasak saya dibatasi oleh kebijakan anti rempong, anti ribet hehehe.

Waktu baru pindah, saya masih malu-malu kalau ditawari tapau dari hajatan teman. Akhirnya malah rugi sendiri karena selalu kehabisan yang enak-enak. Keburu ludes oleh ibu-ibu lainnya. Lama-lama saya jadi tambah lihai dan percaya diri mengincar makanan enak yang tidak bisa saya buat.

Hasil 'jarahan' saya dari hajatan teman ini sering jadi penyelamat dari keharusan masak malamnya setelah ngedon di rumah teman sampai sore dan terlalu lelah untuk bergulat dari awal menyiapkan makanan dan cuci-cuci peralatan masak setelahnya. Jadi tinggal masak nasi saja dan paginya? serabi, risoles, lemper atau kue-kue a la Indonesia hadir sebagai teman sarapan sekaligus obat kangen panganan Indonesia hahaha? Praktis, kan?

Sedihnya, perkara tapau kadang ternoda oleh benci, Mom. Pernah ada teman, perkara tapaunya kerap jadi omongan di belakangnya. Disebut-sebut ratu tapau-lah karena dinilai paling kemaruk. Tapi lucunya ketika ada oknum lainnya yang selalu anti tapau hingga mengecewakan pengundang, karena ketika tamu menolak tapau terlalu sering bisa membuat tuan rumah berpikir si tamu menganggap masakannya ga enak. Akhirnya malah jadi tidak pernah diundang lagi kumpul-kumpul dengan tambahan embel-embel 'sombong', 'sok'. Serba salah kan? 

Ya, di Singapura, tapau dari hajatan teman bisa jadi perkara sosial politik dalam kancah pergaulan sesama orang Indonesia di mari, Mom. Tapi biar berintrik, tidak menyurutkan semangat tapau saya kok. Prinsipnya sopan terkendali. Kalau diomongin? Saya tidak ambil pusing, toh dia mengurangi pahalanya sendiri setelah memberi saya makanan enak, yang saya acungi jempol dua karena bisa membuatnya sendiri, enak pula!

Cheers,

Icha

(The Author of Cintapuccino and Beauty Case)

Partners:
Loading...